Wednesday, January 26, 2011

KENAPA KAU KURUS, JENDERAL?



patung jenderal "kurus" a. yani di kotaku

kotaku namanya BATURAJA. sebuah kota kecil yang masuk dalam wilayah sumatera selatan. bila kalian suatu hari mampir di kotaku, datanglah ke alun-alunnya.  di sana ada patung seorang jenderal  yang pahlawan revolusi . yap, dialah JENDERAL AHMAD YANI. 

sayang, tidak seperti jenderal-jenderal lain yang tampak gagah. jendral ahmad yani di kotaku tampak seperti sakit bengek, kurus dan bertulang dada rata. berdirinya pun tidak gagah. mungkin masih lebih heroik jenderal soedirman yang sakit dan berusaha berdiri di depan tandu yang legendaris itu. 


patung jenderal a. yani di museum sasmitaloka, menteng

patung ini terbilang baru diresmikan, tepatnya dua tahun silam. kalau saja PAK WALIKOTA di kotaku jeli, pasti dia akan komplain atau menolak patung yang lebih mirip tokoh PAK LURAH dalam serial SI UNYIL. tentu saja dia  minta dibuatkan patung jenderal yang lebih mirip. atau paling tidak yang lebih gagah--bukan jenderal bengek yang menunjuk ke arah gedung DPRD seperti berujar , "itu lho, anggota DPRD-nya yang ikut kong kalikong kenapa aku berdiri sekurus ini di sini!"


a. yani di desa poncowati. jauh lebih "real"

coba saja kawan bandingkan patung-patung JENDERAL A. YANI di kota lain. sungguh, dengan patung di sebuah desa-- PONCOWATI kec. TERBAGI, LAMPUNG TENGAH--saja patung yang ada di kotaku kalah menarik. sedih juga, apalagi mau dibandingkan dengan patung yang ada di TAMAN DIGITAL medan. atau di MUSEUM SASMITALOKA, menteng. 


patung jenderal a. yani di taman digital medan

kalau saja saya jadi walikota, tentu patung ini akan saya turunkan dan diganti. dan dirikan saja karya patung absurd atau abstrak atau yang bisa menjadi aikon kota baturaja. misalkan, "patung penggawe kemeh/kencing" yang mungkin bisa disejajarkan dengan "manneken pis" di brussel belgia yang terkenal itu. atau bikin patung penuh makna gaya patung "IKATAN" karya  BUT MOCHTAR  di gedung DPR itu. 

ah, saya memang bukan walikota. makanya saya cerewet dan tidak bisa dibohongi para developer macam pembangunan taman di kotaku.   

Tuesday, January 04, 2011

PESIRAH, PEMBARAB, KRIE, dan PENGGAWE

kate-kate judul di pucok itu kerap teaning dikuping kite. tapi bagi budak-budak ye lahir di tahun 1970-an atau 1980-an mungkin hanye akrab, tapi dekde mengenal peran dan kedudukannye. 


siape PESIRAH? pesirah adalah kepala marga. mungkin setingkat kabupaten mak ini ahi. sedangkan wakilnye disebut PEMBARAP. wewenang dan kedudukan PEMBARAP adalah mewakili PESIRAH bilemane PESIRAH dekde ade di tempat. di bawah sang PESIRAH, ade pembantuyang disebut KRIE yang kekuasaannye tentu kian ade di bawah atau setingkat dusun mak ini ahi. jadi bolehlah amen KRIE disebut kepala dusun. sedangkan di bawah KERIE ade agi yang namenye PENGGAWE atau disebut kepala kampung. ade juge PENGHULU atau KETIP yang tugasnye lebeh ke urusan keagamaan. 


di jaman dulu para PESIRAH dipilih secare terbuka yang uji jeme mak ini ahi disebut demokrasi. dalam pemilihannye para pemilih atau kontituen berbaris di belakang PESIRAH yang dipilih. peristiwa ini disebut "PILIH CUMPOK". (ha.ha. secumpok jeme!) jadi hampir dekde mungkin terjadi kecurangan atau manipulasi seperti  KTP ganda atau memilih di tempat lain seperti dalam pilkada mak ini ahi. 


ye dek kalah mantap, PESIRAH mendapat gelar DEPATI atau PANGERAN. nah, mereka ini dekde kian mengatur "pemerintahan", tapi juge mengatur adat BUJANG-GADIS dan juge perkawinan di jaman itu. semua aturan ini tertulis dalam undang-undang berbahasa melayu yang disebut "OENDANG-OENDANG SIMBOER TJAHAJA". SIMBOER TJAHAJA amen dibase ugankan berarti SIMBOHAN CAHAYE atau "percikan cahaya".  hebatnye, undang-undang ini lah ade sejak KESULTANAN PALEMBANG pada masa  Pangeran Ratu Sending Pura (1623—1630). dan diperbarui pada masa Sultan Abdurrahman Cindai Balang (1651—1696)


secara umum, isi undang-undang ini mengatur hak-hak dan kewajiban  masyarakat dalam berbagai tingkatan dan jenis kegiatan. misalkan aturan dusun dan berladang, aturan hukum, serta aturan marge. 


jadi, amen teaning agi kate-kate PESIRAH, PEMBARAB, KRIE dan PENGGAWE, paling dekde kita pacak bahwa sistem demokrasi di kesultanan palembang sude ade  sejak awal abad ke 17, jauh lebih awal endai demokrasi yang didengung-dengungkan oleh jeme barat belakangan ini.      

PESIRAH, PEMBARAB, KRIE, dan PENGGAWE

kate-kate judul di pucok itu kerap teaning dikuping kite. tapi bagi budak-budak ye lahir di tahun 1970-an atau 1980-an mungkin hanye akrab, tapi dekde mengenal peran dan kedudukannye. 


siape PESIRAH? pesirah adalah kepala marga. mungkin setingkat kabupaten mak ini ahi. sedangkan wakilnye disebut PEMBARAP. wewenang dan kedudukan PEMBARAP adalah mewakili PESIRAH bilemane PESIRAH dekde ade di tempat. di bawah sang PESIRAH, ade pembantuyang disebut KRIE yang kekuasaannye tentu kian ade di bawah atau setingkat dusun mak ini ahi. jadi bolehlah amen KRIE disebut kepala dusun. sedangkan di bawah KERIE ade agi yang namenye PENGGAWE atau disebut kepala kampung. ade juge PENGHULU atau KETIP yang tugasnye lebeh ke urusan keagamaan. 


di jaman dulu para PESIRAH dipilih secare terbuka yang uji jeme mak ini ahi disebut demokrasi. dalam pemilihannye para pemilih atau kontituen berbaris di belakang PESIRAH yang dipilih. peristiwa ini disebut "PILIH CUMPOK". (ha.ha. secumpok jeme!) jadi hampir dekde mungkin terjadi kecurangan atau manipulasi seperti  KTP ganda atau memilih di tempat lain seperti dalam pilkada mak ini ahi. 


ye dek kalah mantap, PESIRAH mendapat gelar DEPATI atau PANGERAN. nah, mereka ini dekde kian mengatur "pemerintahan", tapi juge mengatur adat BUJANG-GADIS dan juge perkawinan di jaman itu. semua aturan ini tertulis dalam undang-undang berbahasa melayu yang disebut "OENDANG-OENDANG SIMBOER TJAHAJA". SIMBOER TJAHAJA amen dibase ugankan berarti SIMBOHAN CAHAYE atau "percikan cahaya".  hebatnye, undang-undang ini lah ade sejak KESULTANAN PALEMBANG pada masa  Pangeran Ratu Sending Pura (1623—1630). dan diperbarui pada masa Sultan Abdurrahman Cindai Balang (1651—1696)


secara umum, isi undang-undang ini mengatur hak-hak dan kewajiban  masyarakat dalam berbagai tingkatan dan jenis kegiatan. misalkan aturan dusun dan berladang, aturan hukum, serta aturan marge. 


jadi, amen teaning agi kate-kate PESIRAH, PEMBARAB, KRIE dan PENGGAWE, paling dekde kita pacak bahwa sistem demokrasi di kesultanan palembang sude ade  sejak awal abad ke 17, jauh lebih awal endai demokrasi yang didengung-dengungkan oleh jeme barat belakangan ini.      

Monday, January 03, 2011

baturaja tempo doeloe dalam foto

Overstroming in Batoeradja, Palembang, Zuid-Sumatra (bajnjir di baturaja tahun 1937)
baca juga BANJIR DI BATURAJA.
koleksi TropenMuseum


"perahu agung" di sungai ogan tahun 1930an dengan keluarga lengkap yang hidup di perahu. baca: PERAHU AGUNG

Moskee op de oever van de rivier Ogan bij Batoeradja (sebuah masjid di tepi sungan ogan) mungkin masjid dusun baturaje tempo doeloe. tampak sudut "ujung tanjung" yang mase alami-- tepatnya tahun 1922
Foto : C.B. (Christiaan Benjamin)

Een man met een Sumatraanse beer te Batoeradja, Lampongse Districten, Zuid-Sumatra
(seorang dengan beruang di baturaja-sumsel. koleksi Tropen Museum 1943)

pemandangan pasar pada tahun 1981 sebelum "semenisasi" toko-toko di baturaja yang dimulai tiga tahun berikutnya. koleksi Heiner Röser

pemandangan "simpang empat", tepatnya BANK SUMSEL sekarang sewaktu lampu merah baru dipasang. di sudut ini merupakan tempat favorit PENCENG berdiam diri. koleksi Heiner Röser

pangkal jeramba ugan 1 tahun 1981, sebelum air PAM mengalir ke rumah-rumah. tampak penjual air dorongan masih menjadi pemandangan di sini. penjual air yang terkenal "kanji" waktu itu bernama ENDON GIGI TOPAK asal serang. koleksi Heiner Röser