Saturday, August 22, 2026

MAMPUS AKU DIKOYAK-KOYAK TUBERCULOSIS!

        Dalam puisinya yang terkenal berjudul Sia-sia, penyair hebat Indonesia Chairil Anwar pernah menulis, “Mampus kau dikoyak-koyak sepi!” Saya sengaja meminjam kalimat bertenaga ini dan mengganti kata “kau” menjadi “aku” dan  “sepi” menjadi “tuberculosis”. Saya tidak sedang bermaksud menyumpahi siapa pun yang yang terdampak atau pernah menjadi penderita tuberculosis atau TB. Termasuk juga Chairil Anwar yang konon  terpapar! Tapi kalimat ini sengaja saya pinjam, agar Anda  yang sehat, yang belum pernah merasakan TB, menghindar dari penyakit yang mematikan ini. Apalagi Indonesia tercatat oleh WHO dan Kementerian Kesehatan sebagai negara dengan beban TB tertinggi nomor 2 sedunia setelah India.

Sebagaimana halnya Chairil Anwar, saya pun pernah mengalami bagaimana “mampus”-nya terdampak TB di usia saya yang sedang produktif-produktifnya. Ini ceritanya!    

Dari Keluarga Sendiri

Suatu hari saya pulang kampung dan menjenguk orangtua dan saudara kandung setelah bertahun-tahun saya merantau. Di rumah, saya tidak mendapati  kakak kandung yang paling dekat dengan saya. Dia belum menikah di usianya yang hampir 40 tahun. Kata Ibu, sekarang dia membuka lahan kebun Ayah yang menganggur. Saya menengoknya yang berjarak setengah jam perjalanan dengan motor dari rumah. Saya kaget, kakak yang saya cintai itu benar-benar kurus, berwajah cekung dan tulang bahunya yang kelihatan meninggi. Tapi bukan itu yang menjadi perhatian saya. Justru batuknya yang tak henti-henti dan hanya bersela beberapa menit yang membuat saya bertanya-tanya.

Lalu dia berkata jujur kalau sudah beberapa tahun-tahun ini menderita TB. “Masih minum obat?” tanya saya hati-hati. Jawaban dari mulutnya justru kalimat arogan yang sering saya dengar dari orang-orang yang anti-minum obat seperti kakak saya.

“Alah, buat apa? Tiap hari saya minum, tapi hasilnya nggak ada.”

Saya tak mendebatnya. Juga tak berani menasehatinya. Dia orang yang saya kenal paling keras kepala. Sejak kami masih kanak-kanak, tak seorang pun berani menganggu apalagi membully saya. Kalau itu dia dengar, alamat benjol di kepala akan dirasakan. Dia memang jagoan di sekolah. Dan sewaktu pulang dari kebunnya, saya hanya bisa mendoakan agar penyakitnya segera pulih.

Di rumah, setelah saya desak, Ibu mengungkapkan rasa prihatin tentang keadaan kakak saya itu.  Itu pula alasan mengapa kakak saya tidak lagi serumah dengan saudara saya yang lain. Ibu dengan takut menceritakan kalau dia sudah bosan menasehatinya. Berbagai cara sudah dilakukan supaya kakak saya mau minum obat. Bahkan Ibu sendiri yang menjadi PMO, pendamping minum obat atau pengawas menelan obat buat kakak saya. Tugasnya memastikan obat diminum setiap hari sampai tuntas sesuai target kesembuhan pasien. PMO ini sudah menjadi presedur fardu ain bagi  keluarga di Indonesia dalam menangani pasien TB untuk menghindari risiko gagal sembuh dan kuman kebal obat pada pasien.  Tapi dasar orangnya bebal bin ngeyel, Ibu menyerah. Dan yang membuat saya kaget, Ibu bilang kalau kakak saya itu sudah MDR, multy drug resistant! Ini  adalah kondisi ketika kuman—bakteri penyebab TB—menjadi kebal terhadap minimal dua obat pembunuh bakteri paling ampuh, yaitu Isoniazid dan Rifampisin. Kondisi ini dikenal sebagai TB Resisten Obat (TBRO), penderita yang sudah tak mampu lagi dengan obat biasa alias harus minum obat khusus yang dosis dan perlakuannya tentu saja lebih kompleks.         

Jangan Menganggap Biasa

Pulang dari melepas rindu di kampung halaman saya kembali melakoni rutinitas di Jakarta. Tapi yang mulai saya rasakan adalah ketika sebulan berikutnya saya batuk-batuk dalam waktu yang relatif sering. Awalnya saya menganggap ini alergi atau batuk biasa. Maklum, sebagai penulis skenario yang sangtat produktif, saya bergaul dan meeeting dengan tim yang umumnya perokok. Merasa batuk tak henti-henti, saya ke dokter umum dan klinik yang berada di dekat rumah atau kantor. Tidak kurang  4 atau 5 dokter yang saya datangi. Hampir seragam, dokter-dokter itu bilang saya alergi karena sering terpapar asap rokok. Saya memang tidak merokok.  Pernyataan dokter-dokter itu pun saya amini. Terlebih fisik dan keadaan saya baik-baik saja. Dan saya percaya apa kata dokter yang sudah saya kunjungi!

Namun di bulan ke 4 berikutnya ada yang berbeda. Batuk saya tak kunjung  pulih. Bahkan menjadi lebih sering. Saya mulai terserang demam dan kepala sering berkeringat. Rasa cepat lelah pun mendera  terutama pada waktu malam. Yang paling saya rasakan adalah saya punya nafsu makan yang besar dan menggebu-gebu. Tapi  ketika makanan itu tiba di meja, semua yang saya bayangkan tentang kenikmatan tiba-tiba lenyap seketika. Tak terkecuali makanan yang paling saya sukai. Nafsu makan “kelas buruh” yang tadi menggebu-gebu seketika itu menghilang. Bahkan, muncul rasa mual.

Saya mulai curiga. Apalagi, istri mengintrogasi dengan pertanyaan suami yang ketahuan punya selingkuhan: apakah saya diam-diam merokok,  apakah ada kawan yang TB, apakah batuk ini bukan alergi dan bla-bla-bla. Pertanyaan ini beralasan, karena pada saat yang sama kami mendapatkan buah hati baru dan anak-anak juga masih kecil-kecil. Malam itu, saya mulai memutar waktu, mengingat-ingat kembali kalau saya pernah bersua kakak saya dan mungkin saya terpapar. Jangan-jangan saya tertular TB saat pulang kampung 4 bulan lalu?

Pagi itu juga ke RS Fatmawati, Jakarta. Tiga hari berikutnya, setelah dahak dan rotgen paru saya diperiksa, seorang dokter spesialis paru memvonis, saya positif TB!

Mampus, kau!             

Disiplin sebagasi Penyitas

Sebelum pulang dari rumah sakit legendaris di Jakarta Selatan itu, saya masuk ke ruang konseling.  Ruangan di lantai 2 ini bersebelahan persis dengan ruang koseling untuk pasien HIV dan AIDS. Seorang petugas kesehatan mendikte saya dengan kalimat-kalimat imperatif: saya harus ini, saya harus itu, tidak boleh begini, tidak boleh begitu dan seterusnya. Intinya, dia menunjukkan pada saya betapa bahayanya TB jika saya tidak disiplin dan melanggar aturan yang dia sarankan. Bahkan dia menunjukkan alat peraga bagaimana bakteri tuberculosis itu akan mengkoyak-koyak paru saya jika saya tak taat minum obat. Saya tak boleh sehari pun lalai. Bahkan saat sedang bepergian. “Semua obat gratis. Anda bisa meminta di klinik mana pun milik pemerintah. Tapi itu bukan iming-iming yang bisa mentolelir Anda lalai. Anda harus fokus sembuh dengan cara taat minum obat. Ingat, keluarga masih membutuhkan Anda!” ucapannya seperti mengancam.    

Lebih 30 menit lelaki “bengis” di depan saya itu menasehati, jatuh juga air mata saya mengingat anak-anak yang masih kecil yang tentu membutuhkan kasih sayang. Dan saya tak mau mampus karena TB!

Sewaktu bertatap muka dengan dokter spesialis paru, dia juga memberi pesan tegas pada saya, “Ada dua hal yang harus kamu pantang. Pertama, jangan tidak makan obat sesuai aturan. Kedua, jangan tidak makan banyak!”

Saya menginsafi keduanya.

Hari itu juga saya mulai akrab dengan Rifampicin. Obat berwarna merah tua ini  di minggu pertama saya konsumsi membuat saya tidak bisa tidur! Halusinansi datang silih berganti. Kadang saya merasa seperti berada di tengah-tengah kobaran api neraka. Seluruh tubuh seperti dibakar! Kadang neraka lain versi penganut Shinto, Jepang, berada di gua salju yang luar biasa menggigilkan tubuh. Kadang, tiba-tiba saya peserti berada di tengah hujan. Ingin tidur tapi mata tak mampu menutup dan kantuk yang datang luar biasa menyiksa.

Melewati bulan pertama, saya berangsur bisa makan. Makanan yang sejak semula hanya  lapar di mata dan selalu saya tolak, kini bisa saya nikmati. Perlahan pipi saya yang sudah kempot, berlesung tajam dan kelihatan tulang, juga mulai terisi. Dua bulan persis saya diisolasi dari keluarga, rasanya inilah beban yang paling berat saya terima. Begitu bulan ke 9 saya tuntas minum obat tanpa pernah lalai,  hasil laboratorium menunjukkan negatif TB. Rasa plong dan syukur kepada Tuhan tak terhingga. Apalagi hasil skrining keluarga tak satu pun mereka  tertular.  

Pelajaran Berharga

TB itu bukan saja membunuh tapi perlahan membuat Anda miskin. Ini yang saya rasakan.  Bayangkan, di masa Anda sangat produktif tiba-tiba ada semacam kuman yang menggerogoti Anda diam-diam. Anda dibuat tak berdaya, bahkan untuk menyuapkan sesendok nasi ke mulut sendiri. Belum lagi beban keluarga yang waktunya terbuang hanya untuk mendampingi Anda.      

Pelajaran berharga lain yang juga tak kalah penting adalah jangan pernah merasa Anda baik-baik saja. Ingat, jika ada keluarga, tetangga, atau teman yang batuk lebih dari 5 hari, segeralah ke dokter. Sebab, menganggap enteng batuk yang berlarut  bisa jadi awal petaka seperti saya.  

Dulu saya tidak yakin saya terpapar TB. Hidup saya yang sehat, rumah yang selalu bersih dan lingkungan bukan lingkungan yang buruk dan kumuh. Masak saya TB? 

Tapi itulah kenyataannya. Stigma lama bahwa TB hanyalah "penyakit orang miskin" atau penyakit lingkungan kumuh kini tak berlaku dengan realitas medis masa kini. Bakteri Mycobacterium tuberculosis tidak pernah melihat isi dompet atau status sosial. Mulai dari pekerja kantoran, manajer bank, artis, hingga masyarakat kelas atas bisa terkena TB. Bahkan, beberapa riset menyebutkan kini TB  bergeser dan menyasar kalangan menengah ke atas. Faktor pemicu utamanya: gaya hidup dan penurunan daya tahan tubuh. Kantor dan ruang ber AC membuat sirkulasi udara tertutup. Bakteri TB menular melalui udara (airborne). Minim sinar matahari juga menjadi pemicu. Padahal sinar ultra violet adalah pembunuh alami bakteri TB. Ruang kerja modern yang minim jendela dan jarang terpapar matahari menjadi tempat ideal bagi bakteri TB untuk bertahan hidup di udara. Banyak orang memiliki TB Latent, kondisi di mana kuman TB sudah ada di dalam tubuh tetapi "tidur" karena ditahan oleh imun yang kuat. Namun, kuman ini bisa bangun menjadi TB Aktif kapan saja jika stres atau kelelahan akibat kerja yang tinggi, kurang tidur dan sering merokok.

Chairil Anwar wafat di usia sangat muda, 26 tahun. Usia paling produktif. Banyak sumber menyebutnya dia kena TB. Mungkin.***

 

#MasyarakatSehatIndonesiaKuat 
#LombaKesehatanKomdigi2026 
#HUT81RI 

 

Joni Faisal 
T: 0812 9504 7500
E: indigoatfarm@gmail.com

 

 

Sunday, November 29, 2015

HALA NGAKU HANG BATURAJE AMEN ELUM KELURO INI...



1. KALAM
Sampai pertengahan tahun 1980-an Kalam mase dikenal sebagai name daerah yang meliputi Jl. Dr Sutomo, sebagian Air Gading, Lubuk Rambai sampai Jl. Pangeran Hadjib mak ini ahi. Tapi endai mane asal name "kalam"? Kalam sebenahnye sebutan untuk "ayakh anak" ye muarenye dulu  di lembak tebing seberang bakal spur Talang Bandung. Aliran ayakh anak ini meliwati sisi kiri Jl. Dr. Sutomo  amen endai arah Pasar ke arah Sukajadi. Sampai sebelum Pasar Tugu atau Asrama Batalyon 145 (mak ini ahi bername Jl. Kapten Syahrial) ayakh anak itu bebilok bemuare ke Ayakh Ugan meliwati mburi Hotel Tiga Dara jaman itu sampai ke lembak tebing Mushola Ar-Rahman. (Amen Kamu di tengah-tengah Jeramba Ogan I di sisi Rumah Sakit, Kamu hanaplah di ke kiri. DI sele-sele batang kayu ujan itulah ayakh anak Kalam sebenahnye) Amen uhang pasar betanye, di mane huma ngan? Dan dijawab gok di "Jalan Kalam". Itu retinye daerahnye meliputi Pasar Tugu ke Barat, sampai Air Gading, Lubuk Rambai, Rumah Sakit Antonio, dan Pabrik Es. (BACE PULE "Jalan Kalam dan Para Punggawa Kuliner Baturaja")
2. DANAU SEHUT
Di pinggiran kota Baturaje jaman itu ade ye namenye Danau Sehut atau Danau Serut. Daerah ini sebenahnye untuk menyebutkan tempat-tempat hiburan malam di tahun 80-an di daerah Bakung atau sepanjang Jl. Moh Hatta sekarang, tepatnye di ujung Timur Jeramba Ogan II. Nangun bangunan untuk bada hiburan itu dibuat di pucok rawa-rawa alias lahan gambut. Endai sinilah amen dang musimnye buah teratai panen. Tapi di pertengahan tahun 1990an, hampir ngatek agi "danau" alias lahan gambut ye disebut Danau Sehut di bada itu.

3. PENCENG 
Hala cuma pacak nyebutkan kate "Penceng" amen elum mengenal siape dia. Sila bace di tautan ini: The Legend, di Kotaku

4. AKMAL
Namenye dijadikan name jalan utama di Baturaje. Tapi siape sebenahnye uhang ini? Amen nak pacak bace di sini. Siape Akmal?

5. Dr Sutomo
Keluro dekde amen Dr Soetomo alias Mas Tom pernah tugas sebagai dokter di Baturaje? Ini die ceritenye, Mas Tom

6. BANGSAL GENTENG
Bangsal Genteng mak ini ahi meliputi bakal di sepanjang Jl. Imam Bonjol. Ngape disebut bangsal genteng? Bada inilah di tahun 80an ade belasan bada pembuat genteng gok bate. Di Jalan ini pule amen ahi Minggu atau libur jaman itu jeme ngundang ibat hase cak icak "betamasya" ke sane hanye untuk ngambek tanah yang disebut uhang mak ini ahi "abu genteng" alias abu gosok. Nah abu inilah yang dipakai sebagai campuran untuk melengitkan itam dibuntut panci alias jelage. Uhang Pasar jaman itu, sampai nyuhok-nyuhok ke tanah ngambe'i tanah liat ye sebenahnye dipakai untuk membuat bate atau genteng. 


Sunday, September 28, 2014

RUKOK GUDONG TEMBAKU RANAU

Belajah Ngudot

Jaman kecek kali ni, siape nak mula'i "jegal", atau ye empai belajah ngudot, pasti nyuka gok rukok gudong.  Amen dekde ngambek diam-diam man nineknye, mbeli di kalangan, atau sengaje datang ke toko Ong Hien di parak daerah Gudang Garam. Atau, minta rukok wan Bak, cak-icak pakai menunjok ngaji. Biasenye, budak ye empai belajah, ngudotnye dekde betembaku. Langsung ditunu ujungnye, isap asapnye. Dek lame bibeh hase kan melepoh keangatan.  

Dekde jarang dipakai untuk penunjok ngaji.
Nangun, mengki dekde be-tembaku, rukok gudong pacak diisap. Tapi itulah ye ngajungkan budak-budak ye bejalah ngudot gangcang iyak. Sebabnye, asap endai gudong itulah ye ngajungkan sakit hungkongan. 

Dibutuhkan pemantik api "mancek", karena sering mati saat di-udut. 
Sebutan "Rukok Gudong" sebenahnye untuk menameinye sebagai "rukok daun". Sebutan "gudong" diwek dalam base Ugan berarti "daun"--mirip-mirip dikit gok base Jawe "Godong".  Padahal, gudong itu  dekde lain adalah daun nipah atau dalam bahasa Latin Metroxylon spp. Batang ye berbentuk rumbia ini dimanfaatkan bagian daunnye. Selain dibuat untuk alat tulis dalam naskah-naskah kuno--bukan daun lontar--juge dijadikan sebagai anyaman lapek, tas, topi, bake, huntong, kelepeh, sampai atap huma. 


Nah, ye dibuat rukok itu dekde lain daun nipah ye mase mude. Setelah dijemoh atau dikelantangkan untuk diputehkan, daun nipah ye kehing ini selanjutnye ditetak sesuai ukuran rukok dan digulong untuk kele mudah disisepkan tembaku. Tembaku ye sekance gok rukok gudong ini dek lain endai tembaku Ranau. Apelagi ditambahi segelas kupi. Makin mantapppp! Tapi hala lupe ngecak pemantik api "mancek". Karena ngudot gudong ini nemanlah die mati. Di bada dihi kali ni, rukok gudong banyak didatangkan endai sentra kerajinan rukok  Sekayu dan Kayu Agung.   

Rukok gudong dekde ngatek larangan pemerintah!
Entah kian mak ini ahi, mase dekde rukok ini beredar di kalangan atau pasar pekan. Amen gi ade, tentu kian bebas endai larangan atau peringatan pemerintah. "Merukok Ngabisi Duit Bini!" Hahaha.   

Ini die tulok'annye! Tinggal nyakah kupi wan hokbus!
Kapan-kapan Kuceritekan pule tentang TEMBAKU RANAU!

Monday, September 08, 2014

Kuntau, Kuntao, 拳道, Pe̍h-ōe-jī: kûn-thâu, atau Kuntaw, Mak Ini Jadi Gerakan Tari dalam Rudat

Payu, kuceritekan dikit tentang Kuntaw! 

Tahun 1981, waktu sirkus endai India muhibah ke Baturaje, aku maseh kelas due SD--tepatnye SD Negeri No 2 atau SD Teladan yang waktu itu kepala sekolahnye bername Cek Hon. Tiap balek endai sekolah yang terletak di depan atau di belakang Pengadilan Negeri Baturaje itu, aku dekde langsung balek ke huma. Tapi justru mandak di lapangan A. Yani diam-diam ngintaikan kru sirkus belateh atau sekedar nginak'i gajah wan himau dienjuk makan. Karene galak ngigal-ngigal diwean itulah aku dikeruyok budak Cemara--yang jadi penguase lapangan A. Yani waktu itu. Paling dekde, setiap ade keramian, baik itu Film Penerangan (Istilah hang kota "Layar Tancap"), Pameran Pembangunan atau ade kegiatan lain di lapangan A. Yani yang mak ini jadi Taman Kota, pastilah ade gerumbolan Budak Cemara yang galak "ngeruyok'i" jeme dek jelas macam aku. Singakat cerite, balek-balek endai husek nginak'i pemain sirkus itulah badanku bedaha-daha. Umak gok Bak-ku ye kami antau Aba wan Ama tekanjat bukan main. Kuceritekan amen aku dikeruyo'i jeme rami. Dan mulai malam itulah aku dilateh Kuntaw wan Abaku. Entah jurus ape ye diajarkan gok aku waktu itu. Yang jelas uji Abahku, ini namenye "mbinti", "mbangka", ini namenye "nyilek", ini namenye "ngunci" dan lain-lain. Seingatku, waktu itu Abaku melateh kami di belakang huma cuma besampang kian. Kusebut "kami" karena kakak-kakakku juge milu belateh. Aku kurang paham latihan singkat ye diajahkan Abaku itu. Tapi die nyebut-nyebut gerakan itu Kuntaw namenye. 


Nah, setelah mbace dan begaul gok jeme-jeme yang mendalami ilmu beladiri belakangan aku empai pacak amen Kuntaw itu ilmu beladiri khas uhang Melayu yang dikundang oleh perantau endai suku Hokian atau Suku Kek ye kite kenal. Nangun pacak dikatekan 99 persen jeme Cine ye beniage dan merantau ke wilayah Melayu umumnye berasal entai Suku Hokian yang bahasenye berbeda sangat gok bahase Mandarin.  


Amen nuhut Wikipedia, Kuntao atau Kuntaw adalah istilah Hokkien untuk seni bela diri dari masyarakat Tionghoa di Asia Tenggara, terutama semenanjung Melayu. Bukan cuma Melayu Indonesia, tapi juge Malaysia, Filipina dan Singapura. Seiring waktu, kuntao gok silat lah saling mempengaruhi satu gok ye lain di mane beda keduenye lah kabur. Meskipun sejarah mencatat seni beladiri ini datang lebeh endai 500 tahun lalu, umumnye jeme kenal Kuntau untuk menyebutkan ilmu "cara tinju", dari kun 拳 berarti tinju dan tao 道 berarti care. Istilah ini awalnye digunakan untuk seni bela diri Cine pada umumnya, dan identik dengan Quanfa (拳法, POJ: Kun-Hoat). Dalam bahasa Inggris, dan bahkan dalam penggunaan Cina modern, Kuntao biasanya mengacu khusus untuk gaya dibawa ke Asia Tenggara dan sering dekde termasuk sistem beladiri Cine. Di Indonesia atau Semenanjung Melayu, kuntaw berkembang secare diam-diam di komunitas-komunitas Tionghoa untuk membela diri melawan kolonial Eropa yang waktu itu. Maklum kian, komunitas ini di jaman itu merupakan warge kelas rendah dibanding komunitas-komunitas Eropa dan Timur Tengah. 


Melampuai sejarahnye, mungkin sikok pun ngatek agi di bada dihi pendekar Kuntaw ye pacak nceritekan kapan dan lok mane Kuntaw di OKU berkembang atau sebaliknye lengit endai peradaban. Yang pasti, Kuntaw pernah melekat menjadi bagian beladiri ninek muyang dihi di jaman itu. Juge merupekan khasanah budaya uhang Ugan yang lahir endai percampuran budaya lain , termasuk juge rudat kesenian terbangan ye datang endai daerah Hadratulmaut di Timur Tengah. Nah, amen kite pasat'i asat-asat, mungkinkah gerakan-gerakan rudat yang biasenye menyertai tetabuhan rebana itu adalah gerakan Kuntaw? Ye memperagekan jurus-jurus "mbangka", "nangkis" wan "nyilek"? Cuka pasat'i amen kamu dek percaye!      

Gerakan dalam kesenian Rudat ini menunjukkan gerakan beladiri. Mungkinkah Kuntaw?
Gerakan dalam kesenian Rudat ini menunjukkan gerakan beladiri. Mungkinkah Kuntaw?





BATURAJA, KOTA TANPA IDENTITAS?

Sumpah! Aku empai pacak amen “Patung Petani” atau "Tugu Behas" di depan Pasar Lame lah dihubohkan. Setelah bace dan betanye sane sini, patung itu dihubuhkan cuma karena Baturaje dekde menyandang agi “Kota Beras” alias dekde tepat agi gok kondisi Baturaje mak ini yang ngantek agi sawahnye. Terus ape sekarang identitas penggantinye? Patung Semen Tiga Gajah? Amen itu bukan identitas namenye. Itu iklan alias promo! 

Entah inisiatif siape, pastinye pemerintah daerah yang berkuase sekarang punye tanggung jawab. Pacak dikatekan, mereka ye berinisiatif melengitkan patung itu adalah mereka yang a-history, anti-sejarah.  Ngape dekde dibiarkan kian, meskipun identitas sebagai “Kota Beras” itu lah lenyap? Paling dekde untuk mengingat amen Baturaje pernah menyandang prestasi itu. Melenyapkan patung tersebut berarti melenyapkan pule “ingatan besame” atau dalam bahase heritage disebut dengan “collective memory”. Bukan itu kian, penanda kota yang selame ini menjadi ingatan publik jadi lengit dalam kenangan mereka yang telah terlanjur mengingat Baturaje gok patung sepasang petani tersebut.

foto diambek pada lebaran 2009 by : joni faisal
Amen diingat agi, Patung Petani merupakan karya Mas Eddy, seniman lulusan ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia Jogjakarta) yang sekarang beganti name menjadi ISI (Institut Seni Indonesia).  Alhamdulilah, penulis pernah ngecap sekolah di sini. He-he-he. Sekolah yang melahirkan banyak seniman dan sampai tahun 2000an merupekan satu-satunye perguruan tinggi seni milik Negara dengan sebutan Institut. Meskipun ITB juge ade jurusan Seni Patung di Fakultas Seni Murni tapi bukan perguruan tinggi seni. Sekarang ISI bukan agi cuma ade di Jogja, tapi juga di Denpasar Bali dan juga Padang Panjang, Sumatera Barat. 

foto diambek pada lebaran 2009 by : joni faisal
Balek ke soal patung atau tugu "Kota Beras". Patung itu dibangun atas inisiatif Bupati Saleh Hasan, S.H, sebagai bukti amen OKU pernah berjaya gok behas yang  pacak panen 3 kali setahun. Prestasi  surplus behas OKU itu  menopang propinsi-propinsi lain di Indonesia khususnye di Sumatera Bagian Selatan yang mase kekurangan behas. Sampai-sampai Presiden Soeharto waktu itu datang diwek untuk panen raya swasembada behas ke Belitang tahun 1986. Pada masa itu Indonesia pacak menyumbangkan behas untuk rakyat Afrika yang kelapahan dan Suharto mendapatkan penghargaan endai FAO (Food Agriculture Organization) dan menganugrahkan medali “From Rice To Self Sufficiency” ke presiden Orba tersebut  tepat 22 Juli 1986.  Lantas ngape patungnye yang dilengitkan amen prestasi itu dekde disandang agi?

Suharto dan Ibu Tien Panen Raya
Amen aku dekde keliru, Patung Petani itu sikok-sikoknye patung terbaik yang pernah ade di Baturaje. Bandingkan gok patung kuhus Jenderal Ahmad Yani yang lok bidapan dan dekde proporsional tegak di Taman Kota. Ape yang estetis endai patung Pahlawan Revolusi itu? (Bace juge: Kenape Kau Kurus Jendral? ) Untuk sekedar diingat, Tembok Berlin yang jadi simbol pemisahan Jerman itu kian dekde dihubohkan gale meskipun pade 30 Oktober 1990 reunifikasi antare Jerman Timur gok Jerman Barat yang berkembang endai gerakan Glasnost Perestroika di Uni Soviet itu--sebenahnye pernah menjadi "monumen" paling memilukan bagi rakyat Jerman. Tapi bangsa yang berfikir macam Jerman tetap mempertahankan sebagian kecik tembok tersebut untuk diingat oleh generasi mereka mendatang supaye peristiwa keji dalam sejarah bangsanye itu dekde pernah lagi terulang. Sebaliknye kite, kota yang pernah berprestasi dan menunjukkan gok dunie bahwa Baturaje pernah "Bersih Elok Rapi Aman Sejahtera" gok behasnye yang mendunie, melenyapkan mak itu kian monumen prestasi yang pernah tegak di tengah-tengah kota Baturaje. Kele, makmane anak cucu kita nak mengenang dan pacak amen dulu di kota ini behas pernah berjaye? Dan sekarang mane genti identitas itu? Ah, memang lah ciri khas kite nian, amen  cuma pacak merusak tapi dek tau memelihare. Terutame merawat ingatan publik tentang masa lalu kotanye. Without History There is No Future!   

Bace Juge:

Riwayat Baruraja di Jantung Ibukota
Jejak Prostitusi di Kotaku



Friday, May 02, 2014

SEANDAINYA KHOTBAH JUMAT BEBASE UGAN...

Seandainye khotbah Jumat di Bumi Sebimbing Sekundang bebase Ugan, pidato-pidato pejabat publik juge bebase Ugan, guru-guru ngajar di sekolah bebase Ugan, dan pertemuan-pertemuan informal maupun formal juge makai base Ugan, alangkah banyak kate-kate base Ugan yang lengit terselamatkan. Tapi kenyataannye dekde ma'itu. Dalam pergaulan saahi-sahi, banyak uhang lah ninggalkan base Ugan ye mase sehumpun dalam bahase Melayu ini. Justru budak-budak mude yang seharusnye jadi ujung tombak menyelamatkan base Ugan endai ancaman kepunahan, malah lebeh dekde peduli agi. Mereka umumnye galaklah bebase Palembang atau yang dikenal dengan "baso seari-ari". Dan ye membuat kite mihis ati dan gelimean adalah kenyataan amen umumnye mereka mehase gengsi ngumong gok base Ugan. Mereka menganggap base Ugan base adalah dusun, base kampungan dan maluan amen dijadikan sebagai base pergaulan. Ditambah pule, kurangnye atau malah ngatek pelajaran-pelajaran lokal ye mendukung base Ugan sebagai pelajaran tambahan, ngajungkan base Ugan semakin kurang diminati generasi kini. 



Dulu, sekitar tahun 1980an, kite mase pacak bangga gok Bupati H. Saleh Hasan, S.H. (Alm). Sebab beliau setiap kemane-mane, dekde pernah meninggalkan base Ugan. Pun di masjid-masjid atau pidato di halaman sekolah.  Tapi mak ini ahi perlakuan pejabat di lingkungan Bumi Sebimbing Sekundang ye ma'itu pasti kian lah langka. Guru-guru pun mungkin pacak diitung gok jahi ye nak bebase Ugan. Uhang-uhang di pasar juge lebeh banyak teaning ngumong gok base Palembang Padahal, base Ugan dalam ancaman kepunahan! Dek percaye?  

Amun nuhut data Summer Institute of Linguistics ye menyelidiki 2.590 bahasa di dunie, base Ugan termasuk di dalam base ye mereka sebut gok Endangered Languages itu, atau base ye terancam punah.  Base Ugan yang mereka tandai gok kode ISO 639-3 ogn (standar Internasional mengenai pengkodean bahasa dunia) ini, termasuk bagian ye dekde aktif dipublikasikan. Menurut mereka, base Ugan senasib gok base Kerinci, Lampung dan Komering yang mengalami penurunan pengguna atau penutur.  Bahkan menurut SIL pule, ade 662 bahase di dunia ye cuma digunekan oleh dekde lebih endai 100 uhang penutur (first-language speakers). Nah, base Ugan mase beruntung. Diperkirekan mak ini dekde kurang sekitar 400 ribu penutur endai berbagai suku-suku di Sumatera Selatan termasuk bebehape daerah di Lampung. Dan base Ugan termasuk base ye "sakit" karena semakin ahi semakin kurang jeme ye nggunekannye. 

Ngape Base Ugan penting untuk diselamatkan? Sebab, diperkirekan tahun 2100 kele, lebe endai  setengah endai 7.000 bahase ye  ditutuhkan di Bumi ini bakal lengit ! Dan itu berarti juge melengitkan pengetahuan tentang sejarah, budaye, lingkungan alam, dan pemikiran manusie di dalamnye. Inilah catatan  aktual ye dibuat National Geographic bekerja same gok Living Tongues Institute for Endangered Languages ye mengidentifikasi bahasa di planet kite. 

Jadi, amen bahase itu lengit, lengit pule lah segale budaye kite. Ape agi ye nak diwariskan ke anak cucong?  

 
  

Monday, April 07, 2014

RIWAYAT "BATURAJA" DI JANTUNG IBUKOTA


Jl Baturaja di kawasan Jl. Thamrin, Jakarta
Amen kebile ahi kamu sempat ke Jakarta dan kebutulan meliwati Jl. Thamrin yang terkenal itu, mehanaplah ke sebelah kiri. Persis setelah Dukuh Atas amen endai arah Blok M ke Monas, kamu pasti tega gok yang namenye Jl. Baturaja. Atau amen kamu naek Trans Jakarta di jalur Busway, tuhunlah persis di halte Tosari. Persis di sebelah OUB Plaza, itulah Jl. Baturaja. Dek salah agi,  bakal ye ngambek namenye endai name dusun dihi itu tetap ade sampai mak ini. Uniknye, bakal ye panjangnye dekde lebeh endai 500 meter ini, jaoh lebeh besak endai Jl. Palembang. Padahal, secare logika seharusnye Jl. Baturaje lebeh kecik, tapi sebaliknye, Jl. Palembang malah cuma sub-jalan Baturaja ye menghubungkan Jl. Baturaja gok Jl. Teluk Betung. 
Jalan Baturaja membentang persis antara Jl. Thamarin sampai  ke Jl. Rengat dan terus ke Jl. Martapura yang menghubungkan bakal utama Ibukota ke arah Tanah Abang. Ye mengherankan, di tengah-tengah Jl. Baturaja ade bakal kecik agi yaitu Jl. Muara 2. Nah, gara-gara salah penulisan inilah banyak uhang galak betanye mane "Muara 1" dan "Muara 3" nye? Padahal seharusnye dulu ditulis gok "Jl. Muaradua" bukan "Muara 2" lok tertabal di plang bakal itu.

Jl. Thamrin tahun 1968. Tepat di kiri jalan masuk ke Jl. Baturaja. Foto: Ipphos
Tapi itu dulu, kire-kire 15 tahun lalu. Tragisnye Mak ini Jl. Palembang dan Jl/Gang Maura 2, lenyap entah dimane himbenye. Sulit dicakah ataukah berganti name? Kebutuhan akan gedung-gedung bertingkat untuk kawan bisnis dan hunian mungkin saje  melenyapkan jalan ini. Untung kian Jl Baturaja masih eksis meskipun dekde seilok dulu. Carut-marut pembangunan bangunan vertikal membuat akses bakal ini dekde agi lok dulu. Bahkan bakal yang dulu luhus dan cukup libah, mak ini makin menyempit dan bebelok arah ke Jl. Timah. Showroom Mazda yang dulu jadi aikon bakal ini pun mak ini lah pindah dan dibongkar, siap untuk dijadikan bangunan baru yang lebih menterang. Jl. Teluk Betung diwek mak ini juge sebagian lah beganti gok Jl. Thamrin Boulevard. Dan mungkin saje, Jl Palembang yang lengit itu mak ini lah jadi bangunan Thamrin Residen yang hargenye selangit itu. (Meskipun regenye  mungkin dekde tecapai gok duit kite, aku milu bangga karene ade kanceku Hang Dusun Banuayu yang mak ini bermukim di Berlin punye due kapling di apatermen ini. Hehehe. Milu bahagia, Lai)  


Thamrin Residen yang mungkin melenyapkan Jl. Palembang itu
Mak uji cerite Abahku (H.Badri Kodir) kalini, gara-gara namenye Jl. Baturaja, banyak uhang dihi ye sekolah atau merantau ke Jakarta neman husek ke bakal ini. Bahkan bebehape uhang malah ngontrak huma dan ngekos  di sini. Maklum kian, bakal ini sangat strategis. Jaraknye cuma kire-kire sekilu ke Sarinah, dek sampai 2 km ke Monas, dan cuma 400 meter ke Bundaran Hotel Indonesia. Apelagi di jaman itu, sekitar tahun 60an, Sarinah sikok-sikoknye magnet yang jadi kiblat keramian di Jakarta. Abahku ye sekolah di SMEA 2 Jl. Batu (Depan Gambir) dan kuliah di Akademi Koperasi di Jl, Pancoran waktu itu, hampir tiap malam Minggu husek ke bakal ini. Meskipun bada indekostnye kali ni di Jl. Pramuka, Rawasari, cukup setengah jam ke sini naek kerite. Uji abahku pule, di sinilah uhang Baturaje dulu belunggok. Ade wak Saleh Hasan ye waktu itu mase Sekolah Jakse--ye  kemudian jadi Bupati OKU. Ade wak Komaruddin ye waktu itu jadi supir Duta Besar Rusia. (Di kemudian ahi wak kami ini jadi supir Dubes Perancis, sampai akhir hayatnye beliau jadi supir Dubes Columbia dan dimakamkan di Ciputat). Dek ketinggalan pule wak Sirodj, dan konon, Ramli Hasan Basri ye pernah jadi Gubernur Sumatera Selatan itu neman husek ke sini. 

Jl. Baturaja. Dekde terlalu jaoh kan endai Patung Selamat Datang di Bundaran HI?

Para bujang-bujang perantau Baturaje ye belunggok di sini kalini biase husek ke Sarinah,  ke Senen,  atau amen dekde tu nonton layar tancap bejalan keting rombongan rami-rami ke Berlan. Berlan yang endai dulu nangun sudeh terkenal sangar gok "anak-anak kolongnye" dekde njadikan wak-wak kami kalini gemetah gemigil ngadapi budak-budak jelat di sane. Maklum kian, rate-rate bujang Baturaje kalini mase nyelipkan lading cap garpu di pinggangnye. Nah, nuhut Abahku, ye paling melawan waktu itu wak Sabirin. Almahrum yang terakhir bermukim di Kemelak, samping Puslatpur Baturaje ini, jadi andalan wak-wak ye lain. Maklum kian, badan kenan tu nangun besak dan liat. Amen beguco, sekali tegam muso teduduk! Mak itulah cerite Abahku waktu kami lah mulai besak dan bemukim di Rawasari Jakarta Pusat. Sesekali Abahku ngajak kami melintas ke bakal ini, menyelami agi kenangan mase mude beliau. 

Entahlah,  akan bertahan sampai kapan Jl. Baturaja ade di situ. Pembangunan Ibukota yang makin menggile pacak kian menggusurnye lok nasib Jl. Palembang. Meskipun per meter rege tanah ini  konon mencapai 50 juta. Harge ye fantastis! Tapi dekde ngurongkan jeme ye beduit buka usaha atau bada tinggal di sini. Aku diwek mase ngahapkan bakal ini masih terus ade sampai kele aku gok Abahku husek agi ke sini, mupui agi kenangan lamenye ye ceh kaceh....


Tulisan lain: 
Cerite tentang Doktor Sutomo di Jalan Kalam
Asal Mule Name Jalan Akmal

Tuesday, April 01, 2014

JEJAK PROSTITUSI DI KOTAKU


AWAS, PECAH BULU!


Di mane bada, di mane mase, agok prostitusi alias  bada jeme dewasa buang hajat  atau (maaf) bada melunte, dekde pernah liwat dalam sejarah umat manusie. Bahkan di kota-kota besak di seluruh dunie, bada semacam itu menjadi penanda kota (local historic landmark). Ketike uhang ngumongkan Kalijodo di Jakarta misalnye, Pasar Kembang di Jogja, Saritem di Bandung atau Dolly di Surabaya, tentu pikiran uhang akan mengarah ke sane; bada mesum! Pun di Kota Baturaje.  

 Prostitusi Jaman Bahi

Lorong Panjang
Tahun 80an ye paling terkenal adalah Lorong Panjang. Gang sempit ye meliputi areal sepanjang kire-kire sekilu ini--mulai endai Kebon Babi (maaf, aku dek tau name gangnye mak ini ahi)  sampai Gang di sebelah Hotel Merdeka samping stasiun—itulah ye dinamekan Lorong Panjang. Maklum, gang itu nangun memanjang meliok-liok gok bangunan huma-huma wan gubok ye waktu itu mase sederhane. Ditambah pule bakal ye belicak, akap dan mase banyak kebon. Amen jeme betanye, nak kemane?, terus dijawab, nak ke Lorong Panjang, tentu ini obralan uhang dang wawe. Tapi di balik sebutan itu, ade makne tersirat, amen bada itu “bada dek senunoh”.    
Baturaje mase itu--awal 80an-- nangun dang membangun. Hasil REPELITA (landasan pembangunan jaman Orba), disikapi gok banyaknye perantau masok Baturaje. PT Semen Baturaja-Tiga Gajah mulai tegak, toko-toko Cine pasar mulai betonisasi, bakal Trans Sumatera untuk pertame kalinye dilapisi gok hot mix, dan ye dekde kalah penting datangnye para transmigran endai Jawe yang merantau gok ongkos negara. Nah, tentu kian hiruk pikuk ini membutuhkan para pemandu sorak  ye dekde lain “cek lon” alias lunte atau ye disebut uhang mak ini ahi gok PSK alias “penjaja cinta berbayar”.      
Nangun di bada ini PSK-nye dekde menjajakan secare terang-terangan lok ye mak ini ahi kerap kite kinak'i di warung remang-remang. melainkan lebeh bersahaja, sofly, dekde ketare di mate warge. Tapi amen malam betambah jahanam—(meminjam istilah Motinggo Busye), uhang pacak mbedakan mane Cek Lon mane uhang baek-baek di gang ini.ye lebeh meramikan agi, ade bioskop dahat atau biskop Kramat ye  merupekan sikok-sikoknye hiburan di mase itu ye letaknye dekde terlalu jaoh endai gang ini. Stasiun Baturaje  ye letaknye cuma sejengkal, tentu kian punye peran meramikan bada ini.  

Sepancar  
Jaoh sebelum musim karaoke ye menyebar di banyak bada mak ini ahi di Kota Baturaje, Sepancar merupekan koloni warung esek-esek ye dek pacak lepas mak itu kian endai ingatan publik. Bahkan ade adagium, amen datang ke sini “Sepan Tuhun Lancar” alias celana cepat melorot. Hehehe...
Terletak sekitar 12 kilometer dari titik nol Kota Baturaje, Sepancar akan idup di malam ahi. Lebeh-lebeh di malam Minggu. Gok badanye ye strategis karene dilalui mubil-mubil besak ye melintasi jalan Trans Sumatera, menjadikan Sepancar sebagai areal warung-kebon bergelimang cahaye. Nah, mubil-mubil ye melintas inilah ye dimanfaatkan para Cek Lon untuk “bermutasi” ke Lampung, Bandung, atau bahkan ke daerah yang lebih jauh Medan atau bahkan Semarang amen mereka dek agi laku agi di bada ini.



Wak/Mang Likin
Di hiruk pikuk dunia gemerlap Cik Lon di Baturaje ini, ternyate memunculkan sebuah name Wak atau Mang Likin. Konon, dielah raje Cik Lon alias Papi yang dikelilingi banyak penjaja cinta di Baturaja. Konon pule, dielah yang mendatangkan betine-betine yang akan dipasok ke Baturaje. Bahkan gok die pule uhang amen nak bertransaksi. Name Wak atau Mang Likin pade mase itu, menancap nian di palak budak-budak pasar untuk menyebut "budak playboy". Meskipun banyak uhang dek tau siape sebenahnye beliau ini, tapi sampai mak ini ahi name Likin tetap jadi legenda diwek di Baturaje, sejajar gok Penceng dan Wak Ija.. Amen ade budak-budak ngumongakan Likin, uhang tue atau uhang besak akan memperingati, “Hoi, pedie ngumongkan Liken tu? Peca bulu kele,”  Mak itulah. Peca bulu, sebuah lema untuk nyebutkan budak kecik yang berpikiran dan bertingkah mesum. Konon, budak ye pecah bulu dek tahu agi mbesak. Ya, cacam!
 
Ingat Lorong Panjang, jadi tehingat novel Les Misérables (baca: /l ˌmɪzəˈrɑːb/) karya Victor Hugo ye ngantatkan Anne Hathaway jadi The winner Best Supporting Actress di Oscar 2013 lalu. Lorong dimane  Si tokoh Fantine rela untuk melakukan pedie kian, bahkan sampai die terpaksa melacur demi sang anak Cosette. Tapi gang bada Fentine buka praktek itu bukan cuma cerite tentang birahi, melainkan sejarah kota, arsitektur, desain dan tapak panjang makmane sejarah kota Paris berkembang endai abad ke abad. Sebagai mane juge Lorong Panjang dan Kota Baturaje....  


*Joni "Lodeh" Faisal
pernah jadi reporter Harian Merdeka (2004-2006). Menulis untuk rubrik “Kota Kita” di harian Kompas, rubrik Seni harian Sinar Harapan, majalah Jakarta!Jakarta! dan bekerja untuk rubrik “Space and Place”  di majalah berbahasa Inggris Latituted. Sekarang penulis lepas naskah-naskah komedi di berbagai televisi. Diantaranya Animasi untuk MNC Group dan sinetron komedi Anak-anak Manusia di RCTI. Juga untuk studio Animasi DGM-Maxinema.