Saturday, August 22, 2026

MAMPUS AKU DIKOYAK-KOYAK TUBERCULOSIS!

        Dalam puisinya yang terkenal berjudul Sia-sia, penyair hebat Indonesia Chairil Anwar pernah menulis, “Mampus kau dikoyak-koyak sepi!” Saya sengaja meminjam kalimat bertenaga ini dan mengganti kata “kau” menjadi “aku” dan  “sepi” menjadi “tuberculosis”. Saya tidak sedang bermaksud menyumpahi siapa pun yang yang terdampak atau pernah menjadi penderita tuberculosis atau TB. Termasuk juga Chairil Anwar yang konon  terpapar! Tapi kalimat ini sengaja saya pinjam, agar Anda  yang sehat, yang belum pernah merasakan TB, menghindar dari penyakit yang mematikan ini. Apalagi Indonesia tercatat oleh WHO dan Kementerian Kesehatan sebagai negara dengan beban TB tertinggi nomor 2 sedunia setelah India.

Sebagaimana halnya Chairil Anwar, saya pun pernah mengalami bagaimana “mampus”-nya terdampak TB di usia saya yang sedang produktif-produktifnya. Ini ceritanya!    

Dari Keluarga Sendiri

Suatu hari saya pulang kampung dan menjenguk orangtua dan saudara kandung setelah bertahun-tahun saya merantau. Di rumah, saya tidak mendapati  kakak kandung yang paling dekat dengan saya. Dia belum menikah di usianya yang hampir 40 tahun. Kata Ibu, sekarang dia membuka lahan kebun Ayah yang menganggur. Saya menengoknya yang berjarak setengah jam perjalanan dengan motor dari rumah. Saya kaget, kakak yang saya cintai itu benar-benar kurus, berwajah cekung dan tulang bahunya yang kelihatan meninggi. Tapi bukan itu yang menjadi perhatian saya. Justru batuknya yang tak henti-henti dan hanya bersela beberapa menit yang membuat saya bertanya-tanya.

Lalu dia berkata jujur kalau sudah beberapa tahun-tahun ini menderita TB. “Masih minum obat?” tanya saya hati-hati. Jawaban dari mulutnya justru kalimat arogan yang sering saya dengar dari orang-orang yang anti-minum obat seperti kakak saya.

“Alah, buat apa? Tiap hari saya minum, tapi hasilnya nggak ada.”

Saya tak mendebatnya. Juga tak berani menasehatinya. Dia orang yang saya kenal paling keras kepala. Sejak kami masih kanak-kanak, tak seorang pun berani menganggu apalagi membully saya. Kalau itu dia dengar, alamat benjol di kepala akan dirasakan. Dia memang jagoan di sekolah. Dan sewaktu pulang dari kebunnya, saya hanya bisa mendoakan agar penyakitnya segera pulih.

Di rumah, setelah saya desak, Ibu mengungkapkan rasa prihatin tentang keadaan kakak saya itu.  Itu pula alasan mengapa kakak saya tidak lagi serumah dengan saudara saya yang lain. Ibu dengan takut menceritakan kalau dia sudah bosan menasehatinya. Berbagai cara sudah dilakukan supaya kakak saya mau minum obat. Bahkan Ibu sendiri yang menjadi PMO, pendamping minum obat atau pengawas menelan obat buat kakak saya. Tugasnya memastikan obat diminum setiap hari sampai tuntas sesuai target kesembuhan pasien. PMO ini sudah menjadi presedur fardu ain bagi  keluarga di Indonesia dalam menangani pasien TB untuk menghindari risiko gagal sembuh dan kuman kebal obat pada pasien.  Tapi dasar orangnya bebal bin ngeyel, Ibu menyerah. Dan yang membuat saya kaget, Ibu bilang kalau kakak saya itu sudah MDR, multy drug resistant! Ini  adalah kondisi ketika kuman—bakteri penyebab TB—menjadi kebal terhadap minimal dua obat pembunuh bakteri paling ampuh, yaitu Isoniazid dan Rifampisin. Kondisi ini dikenal sebagai TB Resisten Obat (TBRO), penderita yang sudah tak mampu lagi dengan obat biasa alias harus minum obat khusus yang dosis dan perlakuannya tentu saja lebih kompleks.         

Jangan Menganggap Biasa

Pulang dari melepas rindu di kampung halaman saya kembali melakoni rutinitas di Jakarta. Tapi yang mulai saya rasakan adalah ketika sebulan berikutnya saya batuk-batuk dalam waktu yang relatif sering. Awalnya saya menganggap ini alergi atau batuk biasa. Maklum, sebagai penulis skenario yang sangtat produktif, saya bergaul dan meeeting dengan tim yang umumnya perokok. Merasa batuk tak henti-henti, saya ke dokter umum dan klinik yang berada di dekat rumah atau kantor. Tidak kurang  4 atau 5 dokter yang saya datangi. Hampir seragam, dokter-dokter itu bilang saya alergi karena sering terpapar asap rokok. Saya memang tidak merokok.  Pernyataan dokter-dokter itu pun saya amini. Terlebih fisik dan keadaan saya baik-baik saja. Dan saya percaya apa kata dokter yang sudah saya kunjungi!

Namun di bulan ke 4 berikutnya ada yang berbeda. Batuk saya tak kunjung  pulih. Bahkan menjadi lebih sering. Saya mulai terserang demam dan kepala sering berkeringat. Rasa cepat lelah pun mendera  terutama pada waktu malam. Yang paling saya rasakan adalah saya punya nafsu makan yang besar dan menggebu-gebu. Tapi  ketika makanan itu tiba di meja, semua yang saya bayangkan tentang kenikmatan tiba-tiba lenyap seketika. Tak terkecuali makanan yang paling saya sukai. Nafsu makan “kelas buruh” yang tadi menggebu-gebu seketika itu menghilang. Bahkan, muncul rasa mual.

Saya mulai curiga. Apalagi, istri mengintrogasi dengan pertanyaan suami yang ketahuan punya selingkuhan: apakah saya diam-diam merokok,  apakah ada kawan yang TB, apakah batuk ini bukan alergi dan bla-bla-bla. Pertanyaan ini beralasan, karena pada saat yang sama kami mendapatkan buah hati baru dan anak-anak juga masih kecil-kecil. Malam itu, saya mulai memutar waktu, mengingat-ingat kembali kalau saya pernah bersua kakak saya dan mungkin saya terpapar. Jangan-jangan saya tertular TB saat pulang kampung 4 bulan lalu?

Pagi itu juga ke RS Fatmawati, Jakarta. Tiga hari berikutnya, setelah dahak dan rotgen paru saya diperiksa, seorang dokter spesialis paru memvonis, saya positif TB!

Mampus, kau!             

Disiplin sebagasi Penyitas

Sebelum pulang dari rumah sakit legendaris di Jakarta Selatan itu, saya masuk ke ruang konseling.  Ruangan di lantai 2 ini bersebelahan persis dengan ruang koseling untuk pasien HIV dan AIDS. Seorang petugas kesehatan mendikte saya dengan kalimat-kalimat imperatif: saya harus ini, saya harus itu, tidak boleh begini, tidak boleh begitu dan seterusnya. Intinya, dia menunjukkan pada saya betapa bahayanya TB jika saya tidak disiplin dan melanggar aturan yang dia sarankan. Bahkan dia menunjukkan alat peraga bagaimana bakteri tuberculosis itu akan mengkoyak-koyak paru saya jika saya tak taat minum obat. Saya tak boleh sehari pun lalai. Bahkan saat sedang bepergian. “Semua obat gratis. Anda bisa meminta di klinik mana pun milik pemerintah. Tapi itu bukan iming-iming yang bisa mentolelir Anda lalai. Anda harus fokus sembuh dengan cara taat minum obat. Ingat, keluarga masih membutuhkan Anda!” ucapannya seperti mengancam.    

Lebih 30 menit lelaki “bengis” di depan saya itu menasehati, jatuh juga air mata saya mengingat anak-anak yang masih kecil yang tentu membutuhkan kasih sayang. Dan saya tak mau mampus karena TB!

Sewaktu bertatap muka dengan dokter spesialis paru, dia juga memberi pesan tegas pada saya, “Ada dua hal yang harus kamu pantang. Pertama, jangan tidak makan obat sesuai aturan. Kedua, jangan tidak makan banyak!”

Saya menginsafi keduanya.

Hari itu juga saya mulai akrab dengan Rifampicin. Obat berwarna merah tua ini  di minggu pertama saya konsumsi membuat saya tidak bisa tidur! Halusinansi datang silih berganti. Kadang saya merasa seperti berada di tengah-tengah kobaran api neraka. Seluruh tubuh seperti dibakar! Kadang neraka lain versi penganut Shinto, Jepang, berada di gua salju yang luar biasa menggigilkan tubuh. Kadang, tiba-tiba saya peserti berada di tengah hujan. Ingin tidur tapi mata tak mampu menutup dan kantuk yang datang luar biasa menyiksa.

Melewati bulan pertama, saya berangsur bisa makan. Makanan yang sejak semula hanya  lapar di mata dan selalu saya tolak, kini bisa saya nikmati. Perlahan pipi saya yang sudah kempot, berlesung tajam dan kelihatan tulang, juga mulai terisi. Dua bulan persis saya diisolasi dari keluarga, rasanya inilah beban yang paling berat saya terima. Begitu bulan ke 9 saya tuntas minum obat tanpa pernah lalai,  hasil laboratorium menunjukkan negatif TB. Rasa plong dan syukur kepada Tuhan tak terhingga. Apalagi hasil skrining keluarga tak satu pun mereka  tertular.  

Pelajaran Berharga

TB itu bukan saja membunuh tapi perlahan membuat Anda miskin. Ini yang saya rasakan.  Bayangkan, di masa Anda sangat produktif tiba-tiba ada semacam kuman yang menggerogoti Anda diam-diam. Anda dibuat tak berdaya, bahkan untuk menyuapkan sesendok nasi ke mulut sendiri. Belum lagi beban keluarga yang waktunya terbuang hanya untuk mendampingi Anda.      

Pelajaran berharga lain yang juga tak kalah penting adalah jangan pernah merasa Anda baik-baik saja. Ingat, jika ada keluarga, tetangga, atau teman yang batuk lebih dari 5 hari, segeralah ke dokter. Sebab, menganggap enteng batuk yang berlarut  bisa jadi awal petaka seperti saya.  

Dulu saya tidak yakin saya terpapar TB. Hidup saya yang sehat, rumah yang selalu bersih dan lingkungan bukan lingkungan yang buruk dan kumuh. Masak saya TB? 

Tapi itulah kenyataannya. Stigma lama bahwa TB hanyalah "penyakit orang miskin" atau penyakit lingkungan kumuh kini tak berlaku dengan realitas medis masa kini. Bakteri Mycobacterium tuberculosis tidak pernah melihat isi dompet atau status sosial. Mulai dari pekerja kantoran, manajer bank, artis, hingga masyarakat kelas atas bisa terkena TB. Bahkan, beberapa riset menyebutkan kini TB  bergeser dan menyasar kalangan menengah ke atas. Faktor pemicu utamanya: gaya hidup dan penurunan daya tahan tubuh. Kantor dan ruang ber AC membuat sirkulasi udara tertutup. Bakteri TB menular melalui udara (airborne). Minim sinar matahari juga menjadi pemicu. Padahal sinar ultra violet adalah pembunuh alami bakteri TB. Ruang kerja modern yang minim jendela dan jarang terpapar matahari menjadi tempat ideal bagi bakteri TB untuk bertahan hidup di udara. Banyak orang memiliki TB Latent, kondisi di mana kuman TB sudah ada di dalam tubuh tetapi "tidur" karena ditahan oleh imun yang kuat. Namun, kuman ini bisa bangun menjadi TB Aktif kapan saja jika stres atau kelelahan akibat kerja yang tinggi, kurang tidur dan sering merokok.

Chairil Anwar wafat di usia sangat muda, 26 tahun. Usia paling produktif. Banyak sumber menyebutnya dia kena TB. Mungkin.***

 

#MasyarakatSehatIndonesiaKuat 
#LombaKesehatanKomdigi2026 
#HUT81RI 

 

Joni Faisal 
T: 0812 9504 7500
E: indigoatfarm@gmail.com