Friday, August 22, 2008

akhirnya datang juga (extra) contoh episode yg tayang

EPS.

SINOPSIS 5

Bingung Mendaki Gunung

PERAN

SEX

UMUR

KARAKTER

Kinar/Guest Performer (GP)

F

25 th

 

Rara

F

21 th

Pemalas. Penakut dan gemar makan. Mudah merasa lapar.

Melati

F

21 th

Anak pemetik teh, teman GP. Pemalu namun selalu berdandan trendi. 

Ryan

M

22 th

Sok jago. Militeristik. Berjiwa pemimpin. IQ sedang tapi pelupa. Romantis.

Hendra

M

22 th

Culun. Penakut. Tidak setia, dan selalu mencari keuntungan di tengah-tengah kesulitan.

 

 

WARDROBE

Kostum pecinta alam/pendaki gunung.

 

SET

EXT. Jalan Lembah Menuju Gunung Gede. 

 

SINOPSIS CERITA

GP (Kinar) adalah anak pemetik teh. Dia termasuk anak-anak yang senang main ke lembah sendirian di dekat areal kebun teh. Di tengah perjalanan yang juga jalan menuju Gunung Gede ia bertemu empat dengan pecinta alam lain yang tersesat. GP mau tidak mau harus menolong mereka, mengingat perbekalan mereka telah habis. Ditambah pula ada diantara mereka yang cidera. Saat GP menolong rupanya temannya MELATI yang mengajak pulang.  

 EPS.

SKENARIO 5

Bingung Mendaki Gunung


EXT. JALAN LEMBAH MENUJU GUNUNG

Tampak RARA dan HENDRA tersesat dan kebingungan harus melanjutkan langkah kemana. Mereka kehilangan timnya yang lain yang akan mendaki Gunung Gede. RARA putus asa tidak mau melanjutkan perjalanan. Dalam kecemasan dan kelelahan tiba-tiba GP inframe. GP tidak membawa apa pun kecuali sehelai kain yang dijadikan syal.

HENDRA

Akhirnya datang juga! (Pada RARA yang duduk lemas) Liat, ada orang!

RARA

Ah, ngaco, Lu. Itu fatamorgana!

 

HENDRA memegang tubuh GP dan mengguncang-guncangkannya. 

HENDRA

Fatamorgana pala, Lu! Liat ini. Ini manusia! (pada GP) Iya, kan? Mbak  pendaki gunung kan? 

RARA

(Ketakutan) Hati-hati, Lu! Ini tempat angker. Jangan-jangan dia setan dedemit yang menyaru jadi manusia. 

GP diharapkan menerangkan tentang jati dirinya. HENDRA terus mendesaknya untuk mengatakan siapa dia sebenarnya.

HENDRA

Tolong, Mbak! Kami udah dua hari tersesat. Teman saya itu demam. Kami kehabisan sembako.

HENDRA harus menyeret GP mendekati RARA untuk menolong RARA.

RARA

(Menggigil) Tolong, Mbak, saya lapar…. Mbak masih punya makanan kan?

GP diharapkan menolong RARA yang sakit.

HENDRA

(lebih santai) Kami ketinggalan dari tim kami, Mbak. Kami tersesat. Kami nggak tau jalan pulang? Mbak biasa naik gunung sendirian?

RARA

Mbak ini pasti pendaki professional kan? Gimana, sih, Mbak caranya survive? Terus kalo tersesat gini apa sih yang mesti dilakukan? Kami bawa kompas, tapi nggak tahu cara menggunakannya. (Menunjukkan kompas dan selembar peta)

GP diharapkan menerangkan bagaimana cara survive dan menggunakan kompas. Kalau tidak GP diminta menunjukkan arah jalan pulang. Pada saat itu juga muncul RYAN.

RYAN

Kemana aja, sih, Lu bedua? Orang-orang pada nyariin? Kita malah udah minta bantuan SAR. (Bertanya pada HENDRA) Ini siapa? Ngomong2 cantik juga….    

HENDRA menggiring agar GP memperkenalkan diri. 

HENDRA

Kenalan sendiri, dong! Dia kan pendaki professional! Liat naik gunung aja sendirian.          

RYAN

(menyombongkan diri) Ah, yang bener? Saya juga pendaki professional, Mbak. Saya udah naik lebih 60 gunung-gunung di dunia. Mbak udah naik gunung apa aja? 

 

Tiba-Tiba muncul MELATI, teman GP yang menggendong seikat kayu bakar dengan kain seperti yang dibawa GP.

 

MELATI

Lu, ngapain aja di sini? Yuk, pulang, yuk! Udah sore nih. Entar kemaleman. Kayu bakar yang Lu bawa mana?   

 

HENDRA, RYAN, dan RARA kaget. Mereka bertanya pada MELATI.

RYAN

Emang kamu dari mana?

MELATI

Nggak jauh dari sini. Tuh, rumah kami di balik lembah ini! (Menunjuk kea rah rumahnya)

RYAN, HENDRA dan RARA merasa bodoh.

 

 

 

 

 

Monday, February 04, 2008

PASAR TEMPEL, NEMPEL DI MANE KIAN

Awal taun 80-an pasar tempel menempati tanah lapang di depan stasiun baturaja, sebelum pindah ke pangkal kawasan SAUNG NAGE sekarang. dulu, ditempat itu cuma menjual ubi gok pisang untuk dibuat makanan dan juadah seperti tapai, getuk, dsb. dan kelak makanan itu juge dijual untuk penumpang sepur. jaman itu, di pasar tempel mase banyak sapi-sapi beredar. bukanye pule petang ahi sampai malam. jeme-jeme ye punye sapi, pasti "hunting" BAWAK pisang sbg makanan selingan piarean. jeme ye beniage di pasar tempel umumnye jeme endai jawe.  menjelang taun 1990-an pasar tempel pindah di pangkal saung nage bersamaan semakin rami jeme ye bejualan. jualannye bukan agi ubi gok pisang, tapi lengkap sayur mayur. dlm waktu ye same bakal sepur dekde agi bebas untuk jeme umum sebab lah dipagari gok kawat duri. dan kemudian memakan korban 4 atau 6 budak MTSN tewas DIALAK sepur sbb dek tau lahi ke pinggir....(endai jogja sedih nian aku nganengnye) pasar tempel nangun nempel di mane kian...

Tuesday, December 21, 2004



Buku karya bersama: Joni Faisal, Ssn, Ir. Murhananto, MM, Agus Afrizal, SEi, Ir. Rhino Pranapati.  
 



Saturday, August 21, 2004

Kota Tanpa Ruang Bermain

oleh: Joni Faisal*

HARI Minggu atau hari libur, mungkin hari paling tepat untuk menyaksikan bahwa Jakarta sesungguhnya kekurangan ruang bermain, terutama bagi anak-anak. Kita dapat melihat, betapa padatnya Senayan oleh lautan manusia yang berebut mencari ruang olahraga di Minggu pagi. Anak-anak yang bermain bola, sepeda, otopet, roller blade, skate board, bulu tangkis, dan kereta dorong bayi berbaur menjadi satu di antara pedagang kaki lima.
Di sana hampir tidak dapat dibedakan lagi, mana ruang olahraga mana pasar. Demikian juga di lingkungan Monumen Nasional atau tempat rekreasi lainnya. Sehingga keberadaan kaki lima itu, seolah-olah sah-sah saja di mana pun tempat yang mereka inginkan, termasuk juga di taman-taman kota.

Jadilah anak-anak kehilangan ruang bermain yang memang sudah langka. Akibatnya, tempat-tempat yang bukan selayaknya menjadi tempat bermain anak-anak, menjadi pelampiasan sebagai ruang bermainnya. Tidak jarang taman-taman yang seharusnya terawat dijadikan lapangan bola, tempat bermain layang-layang, bahkan arena balap sepeda. Anak-anak yang lain mencari tempat di jalan-jalan, di bawah jembatan layang, di halaman kantor, bahkan di jalur hijau, hanya sekadar untuk tempat bermain.

Karena anak-anak memiliki energi untuk beraktivitas lebih besar dan lebih lama dibanding orang dewasa dalam hal bermain, maka wajar jika mereka membutuhkan ruang yang lebih luas. Ironisnya, ruang itu kadang tidak mereka dapatkan di rumah, sekolah, maupun di tempat-tempat yang seharusnya disediakan oleh negara.

Tidak heran jika ruang ekspresi itu menjadi salah sasaran, seperti bermain di atap kereta, tawuran antarsekolah, nongkrong di mal, juga kebut-kebutan di jalan.


***
BUKAN cuma anak-anak Jakarta saja yang kehilangan ruang bermainnya. Prediksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat, diperkirakan hingga tahun 2005, separuh dari 6,5 milyar penduduk dunia akan hidup di daerah perkotaan. Artinya, separuh anak-anak dari jumlah penduduk dunia itu, semakin hari semakin kehilangan tempat bermainnya.

Namun, yang kita lihat di Jakarta sebenarnya lebih parah. Hak-hak anak atas ruang bermain itu semakin hari semakin sempit, bukan saja oleh kaki lima atau pembangunan yang tidak berorientasi kepada masa depan anak-anak, melainkan juga pemerintah sama sekali tidak memiliki kebijakan tentang ruang tersebut. Sekolah-sekolah berdiri tanpa halaman, gelanggang remaja dan arena bermain dibuat sangat sedikit, juga tempat rekreasi yang menyediakan ruang bermain bagi anak-anak, orang harus membayar tiket yang relatif mahal.

Dari sini kita melihat, pemerintah hanya menginginkan sisi komersial dari setiap pembangunan ruang bermain itu. Bukan semata-mata memberikan hak yang sepatutnya diterima masyarakat, khususnya bagi anak-anak.

Sebenarnya bagi anak-anak sendiri, ada atau tidak adanya ruang bermain itu, tidaklah begitu menjadi masalah. Sebab secara alami, mereka telah memiliki kemampuan menemukan ruang bermainnya sendiri. Tetapi masalahnya, ruang bermain tersebut kondusif atau tidak adalah tanggung jawab orang dewasa.

Semua anak-anak di mana pun di seluruh penjuru dunia pasti mencita-citakan tempat bermain yang layak. Seperti dalam suatu penelitian di sekolah dasar di Berkeley, Amerika Serikat. Seorang putri berusia delapan tahun, mengisi kuesioner mengenai rencana pembangunan halaman sekolahnya. Bunyinya: "Saya sangat membenci halaman sekolah yang penuh dengan garis, lantainya kasar dan bisa melukai, juga yang terbuat dari aspal. Dan halaman sekolah yang saya inginkan harus ada tangga berjajar, pohon-pohon, rumput, burung, kolam ikan dan taman bunga." (Wilkinson: 1980)

Nah, bagaimana dengan anak-anak Jakarta. Dapatkah mereka kesempatan untuk "urun rembuk", dalam hal membangun ruang bermain yang mereka inginkan walaupun sebatas halaman sekolah?

Tentunya dalam hal ini, kita tidak dapat diam saja. Sudah seharusnya ada orang yang menuntut pemerintah untuk memenuhi kewajibannya menyediakan lebih banyak ruang bermain, tempat rekreasi yang murah dan membebaskan ruang yang ada dari pengguna yang tidak berhak.

Pentingnya ruang bermain bagi anak-anak di kota, lebih-lebih dari kebutuhan sekunder. Pearce dalam Magical Child (Wilkinson, 1980) mengungkapkan, ruang bermain merupakan tempat di mana anak-anak tumbuh dan mengembangkan intelegensinya. Tempat di mana mereka membuat kontak dan proses dengan lingkungan, serta yang tak kalah penting adalah membantu sistem sensor dan proses otak secara keseluruhan.

Dari tempat bermain pula, anak itu belajar sportivitas, disiplin dan mengembangkan kepribadiannya.

* Joni Faisal, pemerhati perkotaan.

(dimuat di Kompas Rabu, 21 Maret 2001)

Monday, June 07, 2004

Say it with parcel...

by Joni Faisal

Joni Faisal impacks the ambiguous politics of Lebaran gift-giving...
http://www.latitudesmagazine.com

Saturday, April 24, 2004

Peta Hijau Jalan-jalan Terbaik

oleh: Joni Faisal

DALAM kategori The Green Map System (GMS), atau sistem pemetaan yangmenginformasikan sumber daya lingkungan dan budaya di suatu kota, terdapatkategori best walks dengan legenda dua telapak kaki, di antaranya trotoar,jalan-jalan "alami", termasuk jalan-jalan yang berdaya tarik khusus, laludirekomendasikan tim pembuat GMS sebagai best walks yang berdaya tarik. Intinya,best walks identik dengan jalur nyaman bagi pejalan kaki.Jakarta sendiri, pada Januari 2002 telah terdaftar sebagai ibu kota ke-20, sertanegara ke-156 dari seluruh dunia yang akan memiliki GMS tersebut. Saat ini,pembuatan "peta hijau" yang dipelopori Wendy Brawer pada tahun 1994 di New Yorkitu, kini sedang dimulai di kawasan Kemang dan sekitarnya di Jakarta Selatan.Sebagai suatu sistem, GMS selalu didukung partisipasi publik yang ikutmenentukan sumber daya lingkungan dan budaya mana saja yang sepatutnyadiinformasikan. Dengan demikian, publik pula yang menentukan lingkungan itu,serta dapat menolak kebijakan pemerintah yang jelas-jelas tidak mendukung upayaperbaikan lingkungan.Bagi sebuah kota, best walks merupakan sarana vital sejajar dengan fasilitasumum lainnya. Artinya, tanpa peta jalan itu, kota ibarat tanpa darah, karenapejalan kaki adalah energi yang menghidupkan kota. Jalan-jalan mulus dan aruskendaraan yang lalu lalang bukan satu-satunya dinamika yang memberikaneksistensi bahwa kota itu hadir.Jakarta barang kali hanya memiliki sedikit "jalan-jalan terbaik" itu. Namun,pada kenyataannya, best walks itu sering kali terabaikan, bahkan tidakdimanfaatkan, karena keberadaannya tidak disadari. Dengan GMS, jalan-jalanseperti itu akan terinformasikan. Sayangnya, di Jakarta, jalan-jalan yang masukkategori itu terbilang langka.Sebenarnya, secara langsung maupun tidak, manfaat best walks sangat besar bagikeleluasaan mobilitas kota. Banyaknya kendaraan pribadi yang tumpah ke jalanraya, barangkali merupakan indikasi tidak adanya jalan yang layak untuk pejalankaki. Sehingga untuk jarak yang relatif dekat pun orang lebih suka memakaimobil.Sebagai contoh, berapa banyak orang yang mau berjalan kaki dari perempatan jalanCSW di Kebayoran Baru ke Ratu Plaza di Jalan Sudirman, meski berjarak tidaksampai 1.000 meter? Atau dari CSW ke Pasar Mayestik? Padahal, jika dicoba, jarak1.000 meter relatif dekat untuk berjalan kaki. Namun, masalahnya, seberapabanyak jalan yang nyaman sepanjang itu di Jakarta?Kenyataannya, memang tidak mudah mendapatkan jalan yang nyaman bagi pejalankaki. Trotoar yang ada, banyak yang tidak memenuhi standar kenyamanan. Sementaraitu, pedagang kaki lima seolah-olah menjadi pemilik lahan trotoar denganhamparan barang dagangannya, tanpa seorang pun berani melarang.Di Jalan Sudirman misalnya, meskipun baru-baru ini terjadi penertiban, masihbanyak trotoar yang dijejali pedagang kaki lima. Walaupun di beberapa tempattampak bersih, tetapi pencegahan gerobak pedagang dengan kawat duri dan tonggakperintang di sisi trotoar cuma bikin jalur jalan itu berbahaya. Dari segiestetika pun, pencegahan seperti itu sangat tidak mencerminkan daya tarik maupunkeindahan kota.Di sisi lain, tidak sedikit jalanan yang seharusnya tempat terbaik bagi pejalankaki, harus dikorbankan untuk kepentingan tertentu. Misalnya pelebaran jalan,papan iklan yang mengganggu pemandangan, dan juga pohon perindang yang semakinmenghilang.***BEST walks yang sebenarnya memberikan peluang untuk menghemat energi, mengatasikemacetan, mengurangi beban jalan, memberikan kesehatan masyarakat, jugamemberikan kesempatan warga menikmati kotanya.Kontribusi "jalan-jalan terbaik" ini tentu saja memberikan alternatif bagipengguna jalan raya untuk berjalan kaki. Sehingga beban jalan yang digunakantidak bertambah sumpek, padat, dan menimbulkan kemacetan. Lagi pula, kebiasaanberjalan kaki-yang mulai luntur pada masyarakat kota-merupakan cara palingbersahaja untuk menuju ke suatu tempat.Dengan begitu, best walks yang apa adanya di Jakarta saat ini harus segeraditandai dalam Green Map System. Dengan demikian publik berhak menentukansendiri "jalan-jalan terbaik" mereka, dan dimanfaatkannya untuk jalur berjalankaki. Peran pemerintah di sini tinggal mengakomodasi apa yang telah wargalakukan. Artinya, jalan telah dipilih warga sebagai jalan terbaik itu, tidakserta merta dapat diganggu untuk kepentingan yang tidak bermanfaat tanpakompromi masyarakat.

* Joni Faisal, relawan "Green Mapmaker" .

Rabu, 6 Februari 2002
http://kompas.com/kompas-cetak/0202/06/METRO/peta18.htm